Recent Articles

8/02/2011

Di Google Plus Bisa Edit Status Lho!

0 comment



Apakah anda pernah mengalami kesalahan dalam mengupdate status di facebook atau di jejaring sosial lainnya? Kesalahan sekecil apapun, termasuk salah dalam tanda baca atau kesalahan yang bersifat fatal. Misalnya kesalahan kata, kuranganya salah satu huruf dalam suatu kata. Jawabannya pasti berbeda-beda, ada yang tidak pernah dan ada juga yang pernah. Kalau anda yang sudah pernah merasakan hal tersebut, maka itu adalah wajar.

Bisa jadi hal itu disebabkan karna kita terburu-buru atau banyak faktor lainnya yang mempengaruhi. Biasanya kalau di facebook, hal yang paling biasa kita lakukan adalah menghapus status yang salah, kemudian menuliskan kembali. Karena di facebook tidak tersedia tools untuk melakukan pengeditan kembali satatus yang salah atau kurang lengkap. Hal tersebut berbeda jauh dengan google plus.

Setelah saya mencoba mengutak-atik tools yang ada di google plus, ternyata status yang telah diupload bisa diedit lho. Di google plus kita bisa mengedit kembali jika ada kata atau tanda baca yang kurang lengkap. Sekarang kita tidak perlu lagi repot-repot untuk mengupload dua kali untuk memperbaiki status di google plus. Untuk melakukan edit terhadap status di google plus, anda bisa mengikuti langkah-langkah di bawah ini:
  1. Simpan krusor pada tanda segi tiga terbalik di sebelah kanan status anda (perhatikan gambar di samping ini)

  1. setelah itu, akan muncul perintah seperti ini: Edit pos ini, Hapus pos ini, Tautan ke pos ini, Non aktifkan komentar, Nonaktifkan pembagian ulang. Nah, anda harus memilih perintah "Edit pos ini"

  1. Setelah anda memilih perintah Edit Pos, maka akan muncul box edit dimana di dalam box tersebut terdapat status. Lakukanlah edit terhadap status anda yang kurang atau salah.

  1. Setelah itu klik save/simpan hasil editnya. Maka status yg anda edit akan muncul di wall google plus anda.
Read More … Di Google Plus Bisa Edit Status Lho!

7/23/2011

Karena Narsis, Isz(et) ‘Dikeroyok’ Kompasianer Makassar

0 comment

Hari ini (Sabtu, 23/7) Kompasiana bersama Telkomsel mengadakan acara bertajuk ‘Kompasiana Blogshop’. Acara yang dihadiri oleh 125 peserta (karna memang sengaja dibatasi oleh kompasiana) diadakan di Wisma Kalla, Jalan Dr. Sam Ratulangi 8 Makassar. Saya sangat berhasrat untuk mengikuti acara blogshop kompasiana. Alasannya sederhana. Saya ingin membangkitkan kembali gairah menulis saya yang sempat padam beberapa tahun terakhir ini. Alasan yang terkesan klise sebenarnya (untuk tidak dibilang mencari-cari alasan). Alasan lainnya adalah sekedar ingin melihat langsung seorang Pepih Nugraha, Hahahahahaha dasar ndeso. Kehadiran Pepih Nugraha sebagai pemateri justru paralel dengan misi saya ‘menggairahkan kembali hasrat menulis saya’. Kang Pepih begitu ia sering dipanggil, membawakan materi Kiat Menulis Cepat, Menarik dan Bermanfaat.

Kang Pepih tidak sendiri. Ia didahului oleh pemateri pada sesi pertama, namanya Iskandar Zulkarnain atau lebih popular dengan panggilan Isz(et). Nama tersebut adalah singkatan dari namanya, Iskandar Zulkarnaen. Penulisan Isz(et) seperti ini hanyalah versi saya saja. Sejujurnya nama Isz(et) tidak begitu familiar di nalar saya. Sejujurnya juga, saya juga jarang menulis dan berinteraksi di kompasiana, meskipun sudah memiliki akun di kompasiana sejak 2009 lalu, hingga sekarang, baru mengupload dua judul entri tulisan yang diupload dalam sebulan terakhir ini.

Waktu telah mendekati telah memasuki pukul 10.00 Wita. Itu artinya acara Kompasiana Blogshop akan segera dimulai. Acara ini sempat molor 30 menit dari jadwal semula. Hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap mengikuti kompasiana blogshop. Seorang laki-laki berperawakan tinggi, rambut klimis dengan potongan belah samping, memakai kaos berwarna putih berkerah. Di bagian punggung belakang tertulis kompasiana. Laki-laki itu mulai membuka acara. Ia memperkenalkan diri sepintas dengan menyebutkan namanya saja. “Saya iskandar Zulkarnaen” Ia mulai menyapa peserta blogshop yang hampir semuanya adalah anggota kompasiana (kompasioner) makassar, dengan games analitik pada slide proyektor.

Pada pembukaan slidenya Isz(et) menampilkan profilnya lengkap dengan foto narsisnya. “Maaf ya, saya narsis dulu”. Setelah sesi games selesai, di akhir slidenya, Isz(et) menampilkan lagi foto narsisnya dengan memakai kaos oblong warna hitam. Di samping foto tertera curriculum vittae. “Nah, saya mau narsis lagi nih!” ucap Isz(et) sambil tersenyum lebar. Kompasianer pun terbahak-bahak melihat tingkah narsis Isz(et). Acara berlanjut ke sesi ice breaking atau coffee morning.

Setelah Ice breaking, kamipun memasuki sesi pertama Kompasiana Blogshop. Sesi ini dibawakan langsung oleh Isz(et). Isz(et)membawakan materi Citizen Journalism. Materi yang dibawakan oleh Isz(et) sangat menarik, terutama dalam hal penyajiannya. Isz(et) membawakan materi dengan santai, serius, penuh guyon dan sarat narsis, hingga berakhirnya sesi pertama. Rupanya gaya Isz(et) tersebut membuat semangat kompasioner Makassar menggebu-gebu.

Kompasioner Makassar tak sabar ingin ‘mengeroyok’ Isz(et) dengan pertanyaan-pertanyaan seputar citizen Journalism. Tak tanggung-tanggung Isz(et) langsung diberondong dengan tujuh pertanyaan sekaligus. Ketika ditanya oleh moderator apakah sanggup menampung tujuh pertanyaan sekaligus. Lalu dengan santai Isz(et) menjawab, “Lanjut aja pak. Saya sangat siap menampungnya”. Hahahahaha….kompasionerpun untuk kesekian kali tertawa terpinkal-pingkal.

Read More … Karena Narsis, Isz(et) ‘Dikeroyok’ Kompasianer Makassar

7/22/2011

Akhirnya, Saya Punya akun di Google+. Bagaimana dengan Anda?

0 comment


Perkembangan situs jejaring sosial tiap waktu kian menghangatkan rimba maya. Kini bertambah lagi situs jejaring sosial di rimba maya. Tak tanggung-tanggung, situs jejaring sosial ini merupakan buah tangan dari mensin pencari terbesar di jagad maya ini, google. Saya pun tidak ingin ketinggalan untuk memiliki akun di google+. Sayapun mencoba mengakses situs jejaring sosial google+, dengan maksud untuk register demi mendapatkan akun google+. Sayang sungguh sayang, ternyata untuk bisa memiliki akun di google+, saya dan juga anda harus di-invite oleh teman atau kenalan anda yang sudah lebih dulu memiliki akun di google+.

Caranya gimana dong? Simpel kok! Anda harus punya email di google (gmail.com). Nah kl sdh ada, tinggal mencari teman yg sudah punya akun di google+. Kalau anda sudah punya teman atau kenalan yang sudah punya akun di google+, Anda tinggal menitipkan alamat email anda ke teman anda yang sudah memiliki akun di google+. Sampai di sini Masih bingung juga, bagaimana caranya? Begini loh maksudnya, kirim alamat email anda ke teman anda yang sudah memiliki akun di google+ agar anda bisa diundang untuk bikin akun di google+. Kalo nggak mau repot-repot cari teman atau kenalan yang sudah punya akun di google+, tinggalkan saja alamat emailmu di kotak komentar di tulisan ini.

Read More … Akhirnya, Saya Punya akun di Google+. Bagaimana dengan Anda?

8/20/2010

Agar Anak Belajar Mandiri

1 comment
Anak akan merasa aman dan dicintai oleh orang tua. Hanya saja, memberikan cinta kepada anak tidak berarti melindungi secara berlebihan. Anak juga memerlukan proses mencoba dan bereksplorasi di lingkunganya.

Dan yang dibutuhkan oleh anak saat itu adalah kesempatan dan dukungan, baik emosional maupun kata-kata positif serta contoh perilaku yang baik. Jangan sampai si kecil terus bergantung kepada orangtuanya, bahkan sampai dia dewasa. Alih-alih memberikan cinta, malah membuatnya menjadi anak yang tak percaya diri.

Untuk mengajarkan si kecil mandiri, Naomi Soetikno, MPd, Psi dari Rumah Sakit Omni Medical Center Pulomas, Jakarta Timur, memberikan pemaparannya:

Proses Kemandirian

Teori kepribadian yang dikutip dari psikolog asal Hungaria, Margaret Mahler menjelaskan bahwa ikatan antara balita dengan sang ibu akan berkembang ke arah kemandirian.

Prinsipnya, sejak usia 4 bulan, anak mulai secara bertahap "berpisah" dengan ibunya, di mana anak mulai mencari sensasi sendiri dengan asyik bermain-main dengan jari-jarinya sendiri. Anak pun mulai mengembangkan perasaan sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk menghadapi hal-hal yang ada di sekitarnya. Artinya, kemandirian tidak terjadi secara tiba-tiba atau sudah dimiliki sejak lahir, melainkan suatu proses adaptasi seorang anak -sesuai dengan usianya- terhadap lingkungannya.

Mendidik Anak Agar Mandiri

Bila Moms mendapati si kecil kerap merengek untuk menemaninya pada setiap kegiatan, dekati dia, peluk dirinya dan yakinkan bahwa dia dicintai dan dia memiliki banyak potensi. Berikan pula perhatian yang utuh, beri kesempatan anak untuk bereksplorasi dan mencoba dengan upayanya sendiri, beri bimbingan dan arahan praktis.

Begitu juga, saat anak mengikuti lomba dan menampilkan performa-nya. Yang harus Moms lakukan adalah mengingatkan bahwa dia sudah berlatih dengan baik. Dampingi anak saat berlatih dan berikan penjelasan yang dapat dimengerti anak. Jangan mengritik dan merendahkan kemampuan anak, tapi tunjukkan apa yang harus dilakukannya.

Jika si kecil gugup ketika naik ke panggung dan mulai menangis, hendaknya Moms berada tidak jauh dari dirinya dan yakinkan bahwa Moms mencintai dia apa adanya. Tunjukkan ekspresi dan gerak tubuh yang tulus sebagai rasa kasih sayang.

Jika si kecil sedang beraktivitas dan memerlukan perhatian, jauhkan kesibukkan pribadi anda, seperti nonton televisi, bermain HP atau hal-hal yang membuat dirinya merasa tidak diperhatikan. Karena cinta, dukungan dan pendampingan yang utuh -saat anak sedang beraktivitas di mana Moms benar-benar hadir- sangat penting dalam melatih kemandirian sang buah hati.

4 Trik Mendidik Kemandirian Anak

1. Memberi anak kepercayaan dan tanggung jawab. Berilah si kecil kepercayaan untuk melakukan dan memutuskan sesuatu, misalnya biarkan dia menentukan baju mana yang ingin dipakainya. Jika warna tidak serasi berilah penjelasan mengenai warna-warna apa saja yang cocok dan serasi, lalu jenis pakaian apa saja yang bisa dikenakan untuk momen-momen tertentu.

2. Mendorong, membimbing dan memberi dukungan. Berikan dorongan kepada anak untuk bisa berprestasi. Beri dukungan saat dia menyatakan ingin melakukan sesuatu dan bimbing dia untuk bisa berhasil dalam melakukan sesuatu.

3. Memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya. Dasarnya, anak memiliki hak dan kemampuan untuk menyatakan pendapatnya. Libatkan anak dalam setiap pengambilan keputusan dalam keluarga. Dengan demikian dia akan merasa sangat dihargai, sekalipun pendapat yang disampaikannya "asal bunyi".

4. Berikan reward baik pujian atau hadiah setiap kali mereka melakukan hal yang baik. Pemberian reward ini akan memberikan energi yang luar biasa bagi anak. Dia akan mengulangi perbuatan tersebut dan akan terekam dalam benaknya bahwa perilaku tersebut merupakan hal baik yang harus dilakukan.(rps/Mom& Kiddie)
Sumber tulisan: Akh Mujitrisno
http://www.facebook.com/topic.php?uid=315861744011&topic=15566

Read More … Agar Anak Belajar Mandiri

9/12/2009

Kita adalah Generasi yg Tercerabut dari Akarnya

7 comment
Oleh: Aryanto Bima Abidin.



Awalnya tulisan ini hanya untuk mengomentari puisi dari keresahan anak muda bima di facebooknya Laviet Arimachie


tapi pikiran saya tertumapah dan tidak dapat ditampung lagi oleh box komen di pusi tersebut karna keterbatasan karakter yg disediakan.

sedikit penggalan yg saya kutip :

"Bumi Bima, Dana Mbojo....

Maja Labo dahu begitu dijunjung tinggi..
Menjadi Petuah Emas atas hidup yang tak terganti......
Ngaha aina ngoho tetanam kuat di benak....
Menjadi Prinsip tak tergoyah silau harta......"


Mbojo mantoi bisa kita kembalikan. Bukan fisikly nya, tapi nilai dan kearifan lokal Bima itu sendiri. Mbojo ma ntoi bisa kembali jaya jika saja kita bangga dg kearifan lokal kita. Tapi yg terjadi sekarang, justru sebaliknya. Kita sangat miskin identitas, parahnya lagi Modernisasi yang kebablasan justru membuat generasi muda kita kehilangan identitasnya sebagai putra-putri Mbojo. Modernisasi yang kebablasan juga telah mengubur jiwa putra-putri Mbojo.

Mereka kehilangan karakter, cenderung ikut arus. Arus yang melenakan, arus hedonisme. Parahnya lagi, tidak banyak orang tua kita yang melestarikan secara lisan (baca : mengajarkan, menceritakan) kearifan lokal Bima. Ditambah lagi minimnya budaya baca dan tulis (baca: budaya literer) di kalangan masyarakat bima. Kita adalah (baca : Masyarakat bima termasuk generasi mudanya) adalah generasi yang tercerabut dari akarnya. Generasi yang lupa asal usulnya

Maka benarlah Milan Kundera dalam Novelnya "Kitab lupa dan Gelak-Tawa" [Bentang, 2000 : 4] bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Kekuasaan bisa dimaknai sebagai arus dominan dalam hal ini adalah modernisasi yang kebablasan, hedonisme dll. Milan Kundera juga mewanti-wanti kita lewat novelnya tersebut adalah "
Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa adalah menghancurkan memorinya" "....Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya, dan sejarahnya" " Suruh seseorang untuk menulis buku2 baru, membuat kebudayaan baru dan membuat sejarah baru [2000: 262-263]

Kalo kita mengambil sampel negara, maka bisa kita bandingkan Indonesia dengan Jepang. Indonesia adalah bangsa yang besar, kaya akan budaya, nilai dan SDA maupun SDM. tapi kenyataannya indonesia mash belum bisa menunjukan eksistensinya di mata internasional. Kita dipecundangi oleh malaysia yg umurnya lebih muda dari kita. di era 70- 80-qn malaysia mengirim mahasiswanya untuk belajar di Indonesia. Hasilnya sekarang, malaysia jauh lebih maju dari kita dari segi pertumbuhan ekonomi. Ada apa? pasti ada yang salah! Ini karna kita kurang kuat memegang nilai atau kearifan lokal kita sendiri.

Bandingkan dengan Jepang! Negara sekecil itu sudah menantang Amaerika dan Rusia (Perang Dunia II). Bahkan markas Tentara Angkatan laut Amerika (Pearl Harbour-udah nonton film Pearl Harbour ga?) diobrak abrik oleh Jepang. inilah peritiwa yang melatar belakangi pengluluhlantahan kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang.

Bayangkan, Jepang yang sekecil itu sudah menjajah negara2 yg ada di asia dan mengobrak-abrik Amerika termasuk Indonesia. Ada apa dengan Jepang? Itu karna jepang kokoh memegang erat nilai atau kearifan lokalnya sejak jaman nenek moyang mereka. Walaupun dalam kondisi modernisasi, mereka tetap teguh memegang nilai dan kearifan lokal mereka. Pertarungan kearifan lokal jepang dengan arus modernisasi setidak dapat sedikit tergambar juga dalam Film "The Last Samurai".

Bisakah kita (Masyarakat Bima) seperti Jepang? Jawabannya adalah bisa! Persoalannya adalah bukan pada soal bisa dan tidak bisanya, akan tetapi Persolan KEMAUAN. Mau ga kita seperti Jepang? Ayo kita mulai dari sekarang, mulai dari diri kita sendiri. Bangun dan Bentuk karakter kita dengan nilai luhur bangsa kita, agar menjadi bangsa yang berkarakter. Untuk mewujudkan cita2 besar, maka kita harus mulai dari yg kecil, dari diri sendiri dan lakukan sekarang. Jangan tunda-tunda karna hidup tidak mengenal kata tunda, LIVE SHOW MUST GO ON. Intinya "Think Big, Start Small, and Act Now"

So, mari kita mulai dari diri sendiri dulu.

Salam Maja Labo Dahu
Semoga ini bisa menjadi bahan kontempelasi (renungan) bagi kita, lalu mencoba mempraksiskannya (mengejahwantahkannya). Semoga!

facebook.com/aryantoabidin
aryantoabidin.blogspot.com
Read More … Kita adalah Generasi yg Tercerabut dari Akarnya